Selasa, 12 Januari 2010

Profil Kabupaten Landak

Kabupaten Landak Khatulistiwa Punya Cita-cita

Bagi Provinsi Kalimantan Barat, pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Tidak terkecuali di Landak, salah satu kabupatennya yang baru berdiri enam tahun lalu.


Pertanian tanaman padi misalnya, pada 2006 didominasi produksi dari Kabupaten Sambas, Pontianak, Landak, dan Ketapang yang mencapai 71,46% dari total produksi provinsi sebesar 1,1 juta ton. Kabupaten Landak sendiri penyumbang nomor tiga sebanyak 16,66%. Tak berlebihan bila Landak disebut sebagai salah satu lumbung padi Kalbar. Sementara untuk ubi kayu, Landak juga penyumbang terbesar, 40% dari 247 ribu ton produksi ubi kayu Kalbar.


Ujung Tombak

Pertanian menjadi ujung tombak kegiatan ekonomi Landak. Setiap tahun lebih dari separuh total kegiatan ekonomi dihasilkan sektor ini. Menurut data BPS Kabupaten Landak, pada 2003, nilai kegiatan ekonomi pertanian sudah mencapai Rp275,74 miliar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan angka 2001 yang baru meraup Rp255,13 miliar.

Salah satu variabel utama untuk mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi Landak bisa dilihat dari perolehan Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB). Pada 2001, PDRB Landak baru Rp492,62 miliar. Dua tahun kemudian meningkat menjadi Rp534,91 miliar atau rata-rata naik 3,16% per tahun. Dari jumlah itu, pertanianlah penyumbang terbesar. “Tahun lalu, sektor pertanian menyumbang 56% terhadap PDRB,” ucap Ir. Pa’du Limbong, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Landak.

Tak berlebihan bila Pemda Landak menitikberatkan pembangunan ekonomi pada pengembangan dan pemberdayaan agribisnis serta agroindustri. “Membangun pertanian itu penting untuk mensejahterakan masyarakat,” ungkap Drs. Cornelis, MH., Bupati Landak.

Cornelis berpendapat, Landak dengan potensi sumber daya alamnya yang cukup besar mestinya mampu menjadi penyedia kebutuhan bagi masyarakat. Namun sampai sekarang sumber daya itu belum dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan masyarakat maupun salah satu sumber pendapatan daerah (PAD).

Jelas, masa depan Landak tidak lepas dari usaha pertanian yang menyerap 86% penduduk usia kerja. Penyebarannya merata di setiap kecamatan dengan konsentrasi cukup menonjol di Kecamatan Sengah Temila, Mempawah Hulu, Menyuke, dan Mandor.

Menurut Pa’du, untuk menjaga kestabilan kegiatan usaha pertanian, pihaknya membentuk sentra produksi bagi pengembangan komoditas unggulan. Di antaranya Senakin Komplek di Kecamatan Sengah Temila sebagai sentra pembenihan padi, ikan, dan ternak. Sompak Komplek di Kecamatan Mempawah Hulu, Kampet Komplek di Kecamatan Menyuke, dan Ngarak Komplek di Kecamatan Mandor, dijadikan pusat pengembangan tanaman padi.

Meningkat

Pertanian di Landak meliputi tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan. Perkembangan pertanian tanaman pangan, khususnya padi, cukup menonjol.

Dari potensi lahan sawah 74.195 ha, sampai tahun lalu sudah diusahakan sebanyak 56.000 ha. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang baru 54.000 ha. Bahkan, beberapa tahun sebelumnya, lahan sawah yang tidak diusahakan masih 30.352 ha.

Hal itu menunjukkan minat masyarakat Landak untuk usaha tani padi cukup tinggi. “Usaha tani padi di daerah kami sangat menguntungkan,” ucap Ote, petani di Desa Kranji Paidang, Sengah Temila. Ote yang memiliki 4 ha sawah memberi ilustrasi, dari setiap hektar rata-rata dihasilkan 4 ton gabah kering giling (GKG). Dengan harga Rp2.000/kg (Juli), setiap panen Ote mengantungi pendapatan Rp32 juta. Sementara biaya produksi sekali tanam sekitar Rp1,5 juta—Rp2,5 juta/ha.

Ote bersama petani lainnya terus berupaya meningkatkan produktivitas. Dia yakin dengan menggunakan benih unggul seperti Ciherang dan menerapkan pancausaha tani, produktivitas padi bisa ditingkatkan seperti di Jawa. “Di beberapa wilayah, kami sudah berhasil meningkatkan menjadi 6 ton GKG/ha,” imbuhnya.

Untuk mendukung upaya itu, Ote bersama kawan-kawan membentuk kelompok tani. Menurut M. Maryadi, PPL di Kranji Paidang, di wilayahnya sudah terbentuk empat kelompok tani, dengan luas garapan 3.675 ha. “Manfaat berkelompok cukup banyak, misalnya penanaman menjadi serempak dan memudahkan perolehan informasi usaha tani,” tandas Ote yang juga Ketua Kelompok Tani Sejahtera Utama.

Pa’du mengakui, keberadaan kelompok tani sangat membantu pencapaian target produksi padi. “Sampai saat ini saja (Juli), luas panen sudah mencapai 55.000 ha, dari target 56.000 ha sampai akhir 2007,” jelasnya. Tak hanya itu, produktivitas pun meningkat dari rata-rata 3,5 ton pada 2005 menjadi 3,7 ton GKG/ha tahun ini. Sementara produksi padi (sawah dan ladang) tahun lalu mencapai 199 ribu ton.

Di luar itu, Landak menargetkan perluasan areal 12.000 ha untuk mendukung Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) 2 juta ton. Sampai bulan lalu, lahan yang sudah ditanami 7.000 ha. “Target pasti tercapai karena kami akan masuk musim rendeng,” tandas Pa’du.

Komoditas Lain

Di luar padi, masih ada beberapa komoditas pertanian yang berprospek dikembangkan di Landak. Di antaranya jagung, ubi kayu, kedelai, kacang tanah, hortikultura, perikanan budidaya, dan peternakan.

Dari potensi lahan kering 916.715 ha, masih ada lahan tidur sebanyak 133.717 ha. Lahan kering yang sudah digarap pun belum dikelola optimal. Kebun jagung misalnya, pada 2006, baru diupayakan 2.266 ha dengan produksi 2 ton/ha. Demikian pula untuk palawija lainnya maupun hortikultura, masih diupayakan ala kadarnya. Ubi kayu misalnya, setiap tahun luas panennya meningkat. Tahun lalu luas panennya meningkat dari 7.674 ha (2005) menjadi 8.248 ha.

Tidak terkecuali peternakan, seperti sapi potong, ayam potong, kambing, dan babi, belum digarap optimal. Apalagi ayam ras petelur, belum ada yang mengusahakan.

Dinas Pertanian setempat mencatat, populasi ayam potong per tahun tidak lebih dari 50 ribu ekor. Pun sapi potong, populasinya baru 7.438 ekor yang terkonsentrasi di Sengah Temila, Mandor, dan Menjalin. Karena itu, pemenuhan kebutuhan daging ayam dan sapi, sebagian masih dipasok dari Pontianak. Sedangkan populasi babi setiap tahun terus meningkat. Bila pada 2001 hanya 29.377 ekor, maka tahun ini sudah menembus 32.077 ekor.

Khusus perikanan, dari potensi kolam masyarakat yang mencapai 1.000 ha, sampai saat ini yang sudah ditebari baru 600 ha. Ikan mas, nila, dan bawal menjadi favorit masyarakat.

Pengembangan beberapa komoditas pertanian, termasuk peternakan dan perikanan, cukup menjanjikan. Mengingat letak Landak sangat strategis, berada di antara lintasan antarkabupaten dan dua negara (Indonesia—Malaysia), sehingga akses pasar sangat menguntungkan bagi kegiatan usaha tani.

Kemudian, “Pembangunan infrastruktur dari tahun ke tahun selalu sinkron dengan pembangunan pertanian,” papar Drs. Ludis M.Si., mantan Kepala Bappeda yang baru dilantik sebagai Sekda Kabupaten Landak. Kecuali itu, perizinan sangat mudah dan sampai sekarang Pemda Landak tidak menerapkan retribusi.

Sawit dan Karet

Perkebunan juga menjadi usaha andalan. “Karet dan kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan,” ungkap Ir. MC Kardjono, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Landak. Sekitar 300.000 ha lahan perkebunan, lanjut dia, disiapkan untuk menyambut datangnya para investor ke Landak.

Berdasar data dinas terkait, tahun lalu, luas kebun sawit di Landak mencapai 22.684 ha. Dari jumlah itu, 16.336 ha merupakan tanaman menghasilkan dengan jumlah produksi 71.114 ton minyak sawit mentah (CPO). Kebun kelapa sawit ini terhampar di Kecamatan Sebangki, Ngabang, Sengah Temila, Mempawah Hulu, Menyuke, Kuala Behe, dan Air Besar. Perkebunan ini dikelola 4.607 kepala keluarga petani. Produksi sawit diserap oleh satu pabrik CPO milik PTPN XIII yang terdapat di Ngabang, dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar (TBS)/jam.

Sementara karet tersebar merata di 10 kecamatan, dengan total areal 77.393 ha dan menyerap 30.453 kepala keluarga petani. Perkebunan terluas terdapat di Kecamatan Air Besar dan Sengah Temila. Namun, produksi karet di Landak baru mencapai 29.728 ton, yang dihasilkan dari 46.208 ha. Soalnya, sebagian kebun masih berupa tanaman muda, dan 5.446 ha lainnya merupakan tanaman tidak produktif yang perlu diremajakan.

Seluruh produksi karet dijual ke Pontianak lantaran di Landak belum ada pabrik pengolahan. “Kami berharap ada investor yang mau membangun pabrik supaya ada nilai tambah bagi petani Landak,” harap Kardjono.



Masalah SDM

Di tengah tuntutan masyarakat untuk dapat hidup lebih sejahtera, pemda dituntut harus mampu membiayai kebutuhan operasionalnya. Salah satu sumber pendanaan berasal dari pendapatan asli daerah (PAD). Namun, upaya menggali PAD masih kembang kempis. Tahun 2001, pemkab membukukan nilai Rp618,8 juta. Tahun 2002 meningkat dua kali lipat menjadi Rp1,2 miliar dan pada 2005 mengumpulkan Rp2,62 miliar.

Ke depan, Kabupaten Landak masih akan bergulat dengan permasalahan sumber daya manusia. Pada 2005, jumlah penduduk yang tamat SMP, SMU, dan pendidikan kejuruan hanya 22.039 jiwa. Pada tahun yang sama, komposisi penduduk usia muda (<15 tahun) 33,4%. Usia produktif (15—64 tahun) lebih dari 50%. Jumlah penduduk usia produktif yang sebagian besar masuk dalam angkatan kerja akan menjadi masalah baru seandainya lapangan kerja tidak disiapkan.

Menurut data yang disodorkan Ludis, angka pencari kerja lulusan SD sampai sarjana, terus meningkat. Pada 2003 pencari kerja yang mendaftar tercatat 2.439 orang. Setahun kemudian meningkat menjadi 4.150 orang, dan 3.201 orang di antaranya belum bisa ditempatkan. Pada 2005, dari 2.217 orang pencari kerja baru 572 orang yang mendapat pos.

Walaupun masih banyak kendala, gerakan pengembangan dan pemberdayaan pertanian untuk mempercepat pembangunan dan kemandirian daerah telah mengorbitkan Landak pada tingkat kemajuan berarti. Salah satu buktinya, Sang Bupati, Cornelis, mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan Pertanian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Pekan Nasional (Penas) KTNA 2007 di Banyuasin, Sumatera Selatan.



Profil Kabupaten Landak

Landak adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Kalimantan Barat. Terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak pada 1999 dengan ibukota Ngabang.

Berdasar data Kantor Badan Pusat Statistik Landak, kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.909,1 km² atau 6,75% dari luas Kalimantan Barat dan berpenduduk sekitar 313 ribu jiwa, dengan kepadatan 13 jiwa/km2. Wilayah administrasinya terbagi menjadi 13 kecamatan dengan 158 desa, dan 26 di antaranya masih termasuk desa miskin.

Landak berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang, di sebelah utara, dan Kabupaten Sanggau di sebelah timur. Sementara di sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Pontianak. Jarak dari Ibukota Kalbar, Pontianak, ke Ngabang sekitar 177 km.

Di Landak terletak Kerajaan Ismahayana Landak yang merupakan kerajaan Islam tertua di Kalbar. Letak keratonnya di Desa Raja Ngabang, Kecamatan Ngabang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar